Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Cari iLmu DuNk

Rabu, 15 Desember 2010

NORBERT ELIAS

A. BIOGRAFI
Noerbert Elias mempunyai karier yang menarik dan mengandung pelajaran . ia menulis buku yag paing penting pada 1930 – an, tetapi ketiaka itu bukunya tidak di hiraukan orang hingga beberapa tahun terbit. Tetapi, di penghujung Usianya Elias dan karyanya mulai di kenal, terutama di Inggris dan Belanda. Kini reputasi Elias meningkat dan karyanya makin mendapat perhartian dan pengakuan di seluruh dunia(Smits,2001). Elias berumur 93 tahun (meninggal tahun 1990), cukup lama tertunda untuk menikmati pengakuan atas arti penting karyanya.
    Elias lahir di Breslau, Jerman tahun 1897(Mannel, 1992), ayahnya seorang pengusaha pabrik kecil dan kehidupan keluarganya cukup menyenangkan. Ia di besarkan dalam keluarga sejahtera yang membekalinya dengan kepercayaan diri yang kuat yang bermanfaan baginya kemudian ketika karyanya di hargai.
Saya telah di bekali dengan perasaan aman yang besar sejak masa kanak – kanak..saya mempunyai perasaan aman yang mendasar yang besar, perasaan yang dalam menhadapi suatu permasalahan alhornya akan menghasilkan penyelesaiaan yang
terbaik. Rasa aman yang besar ini sudah di tanamkan orang tua kepada saya sejak lahir.
Sejak kecil saya tahu apa yang ingin saya lakukan; saya ingin masuk universitas dan ingin melakukan riset. Saya tahu itu sejak muda dan saya telah melakukannya mesti kadang – kadang tampak mustahil….saya yakin sekali bahwa akhirnya karya saya akan di akui sebagai konstribusi yang berharga terhadap pengetahuan tentahng kemanusiaan.(Elias, di kutip dalam Mennel, 1992;6-7)
Elias masuk dinas militer jerman saat PD II, dan seusai perang itu ia belajar Filsafat dan kedokteran di Universitas Breslau. Meski studi kedokterannya maju pesat tetapi akhirnya ia tinggalkan demi untuk memusatkan perhatian sepenuhnya pada studi Fillsafat. Studi kedokterannya memberikan pengertian tentang saling berhubungan antara berbagai bagian tubuh manusia dan pemahaman itu membentuk orientasinya terhadap antar hubngungan manusia; membentuk perhatiannya pada figurasi. Elias menerima gelar Ph.D.pada januari 1924; baru kemusia  ia pergi ke Heidelberg untuk belajar sosiologi.
Elias tak mendapat gaji di Heidelberg, tetapi ia sangat aktif terlibat dalam kelompok studi sosiologi di universitas Heidelberg, Max Weber telah meninggal tahun 1920, tetapi salon yang di pimpin istrinya, mariane, masih aktif dan Elias terlibat di dalamnya, ia juga bergabung dengan saudar a Weber, Alfred, yang menjadi ketua jurusan sosiologi di universitas Heidelberg maupun Karl Mannheim yang agak lebih maju kariernya ketimbang Elias . kenyataannya Elias menjadi teman dan asisten tak bergaji dari Mannheim.ketika Mennheim di tawari jabatan di universitas Frankfurt tahun 1930, Elias menyertainya sebagai asisten resmi yang di gaji(mengenai hubungan antara kedua orang itu dan karya mereka, lihat Kilminster,1993)
Hitler berkuasa pada bulan Februari 1933 dan segera sesudah itu, Elias, seperti banyak sarjana yahudi lainnya (termasuk Mannheim), di usir dari jerman, mula – mula ia tinggal di paris , kemudian di london (ibunya mati dalam kamp konssentrasi jerman tahyun 1941).di londonlah ia menulis sebagian karyanya tentang proses peradapan (The Civilazing Proces)yang di terbitkan di jerman tahun 1939. ketika itu tidak ada pasar di jjermanbagi buku – buku yang di tulis oleh sarjana yahudi dan Elias tak pernah menerima sesenpun royalti dari bukunya yang di terbitkan itu. Lagipula bukunya kurang mendapat penghargaandi bagian dunia lain.
Baik selama perang maupun hampir satu dekade sesudahnya, Elias hidup lontang lantung dengan keuletannya tanpa jaminan pekerjaan dan tetap menjadi orang pinggiran dalam lingkungan akademisi di Inggris. Tetapi, tahun 1954 Elias di tawadri dua jabatan akademisi dan ia menerima jabatan akademisi di universitas Leicester. Demikianlah Elias memulai karir akademis formalnyadi usia 57 tahun. Karier Elias berkembang di Leicester di iringi oleh sejumlah terbitan karyanya. Namun, Elias kecewa dengan jabatan Profesornya di Leicester karena ia gagal dalam usahanya untuk melembagakan pendekatan pembangunan yang didirikan sebagai alternatif terhadap jenis pendekatan statis (pendekatan Parson dan lain - lain)yang kemudian sangat unggul dalam sosiologi. Ia pun kecewa karena sedikit sekali mahasiswa yang menerimmapendekatannya itu; ia terus seperti menjadi seperti seorang yang berteriak di dalam hutan belantara, bahakan di Leicester di mana mahasiswa cenderung menganggapnya sebagai orang sinting yang meneriakkan masa lalu (Mennel, 1992;22). Menarik untuk di catat bahwa Elias bertugas di Leicester, tak satu pun bukunya yang di terjemahkan ke dalam bahasa inggrisdan sedikit sekali sosiolog Inggris ketika itu yang mahir berbahasa jerman.
Tetapi di benua Eropa, terutama di belanda dan jerman, karya Elias mulai di pelajari sejak 1950–an dan 1960–an. Tahun 1970-an Elias mulai mendapat penghargaan tak hanya di kalangan akademik, tetapi juga di kalangan publik di eropa. Selama sisa hidupnya , Elias menerima sejumlah penghargaan penting, menerima gelar Doktor kehormatan dan berbagai penghargaan atas karyanya.
Yang lebih menarik, meski Elias menerima penghargaan luas dalam sosiologi (termasuk karyanya yang tengah di bahas ini),namun karyanya menerima penghargaan dalam periode di mana sosiologi makin kurang menerima karnya jenis seperti karya itu. Artinya, muncul pemikiran post-modern menyebapkan sosiologi mempertanyakan gaya narasi besar (grand narative) dan karya utama Elias. The Civilizing proces adalah sebuah narsi besar menurut gaya kuno. Artinya karnya itu memusatkan perhatian pada perkembangan perkembangan historis jangka panjang peradaban di barat. Perkembangan pemikiran Post-modern mengancam mengurangi minat terhadap karya Elias justru di saat mulai mendapatkan perhatian luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar